Menjadi Muslim Moderat
TOKOH  

Kisah Abu Ubaidah Berhadapan dengan Ayahnya di Perang Badar, Bukti Kecintaannya Kepada Allah

Sepenggal Kisah Abu Ubaidah bin Jarrah, Bukti Kecintaannya Kepada Allah SWT
Abu Ubaidah bisa termasuk dalam golongan orang yang pertama masuk agama Islam (Assabiqun al-Awwalun). Ilustrasi: pinterest.com

AswajaNusantara.id Tulisan ini akan mengulas kisah salah satu sahabat nabi bernama Abu Ubaidah bin Jarrah. Abu Ubaidah termasuk dalam golongan orang yang pertama masuk agama Islam (Assabiqun al-Awwalun). Golongan Assabiqun al-Awwalun adalah golongan yang terbilang istimewa. Mengapa tidak, golongan ini menjadi salah satu golongan yang mendapatkan jaminan masuk surganya Allah. Tak hanya itu, golongan ini selain dikenal cerdas, juga dikenal memiliki sifat dan laku yang juga baik, yaitu jujur dan amanah.

Dalam menyebarkan agama Islam, golongan Assabiqun al-Awwalun juga memiliki kontribusi yang cukup besar. Tak hanya, menjadi panglima saat umat Islam berperang, tapi mereka juga menjadi juruh dakwah dalam kondisi damai. Nah, Abu Ubaidah bin Jarrah merupakan salah satu dari golongan tersebut.

Abu Ubaidah bin Jarrah digambarkan sebagai sosok yang ramah kepada setiap orang, matanya bersinar, dan wajahnya berseri. Tak heran kalau kala itu banyak orang simpati kepada Abu Ubaidah. Selain itu, ia juga seorang yang pemalu dan tawadhu. Meskipun beliau dikenal memiliki sifat yang lemah lembut dan pemalu, namun ia dikenal sangat cekatan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang penting.

Selain itu, Abu Ubaidah bin Jarrah selama kepemimpinan Rasulullah, ia diberikan tugas untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyangkut keadilan. Kepercayaan yang diberikan kepada Abu Ubaidah ini tidak terlepas dari sifatnya yang jujur, amanah dan berfikir secara jernih.

Kisah Abu Ubaidah dalam menyelesaikan masalah keadilan ini bisa ditengok dari kisah umat Nasrani yang mendatangi Rasulullah. Kedatangan umat Nasrani itu meminta keputusan perihal sengketa atau perselisihan diantara mereka mengenai harta. Dan mereka menerima putusan yang diputuskan dari kaum muslimin. Kemudian Rasulullah menyanggupi dan menunjuk salah seorang sahabat untuk menggantikannya. Seorang sahabat yang ditunjuk bukanlah Umar, melainkan Abu Ubaidah.

Paska ditunjuknya Abu Ubaidah dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Ia kemudian dipandang sebagai orang terpercaya sekaligus kuat karena telah mendapatkan tugas langsung dari Rasulullah. Bahkan, setelah Rasulullah wafat kemudian terjadi transisi kepemimpinan Islam, Abu Ubaidah menjadi salah satu kandidat untuk meneruskan kepemimpinan dan memimpin umat Islam. Mengapa Abu Ubaidah menjadi kandidat, alasannya karena ia adalah orang kepercayaan Rasulullah. Meskipun demikian, Abu Ubaidah menolak dan memilih Abu Bakar as-Shiddiq. Dan ia berkata kepada Umar bahwa “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup—Abu Bakar as-Shiddiq. Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”

Sepenggal Kisah Abu Ubaidah bin Jarrah di Perang Badar

Sejarah Islam tidak terlepas dari peristiwa perang. Sebagai agama baru yang mengajak orang ke jalan keselamatan, Islam tidak serta merta diterima begitu saja. Ada banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam menyebarkan dakwah Islam. Bahkan, dalam taraf tertentu Umat Islam diharuskan untuk berperang. Perang yang dihadapi umat Islam, bukanlah perang untuk menindas dan mengeksploitasi, namun perang dilakukan dalam rangka pembelaan terhadap agama dan keselamatan umat Islam. Dan pembelaan tersebut merupakan suatu kewajiban yang mesti dilakukan.

Kisah peperangan umat muslim ketika itu terdapat kisah Abu Ubaidah bin Jarrah. Kisah kekokohan iman Abu Ubaidah tepatnya saat peristiwa perang Badar. Saat itu, Abu Ubaidah berperang dan berhadapan dengan lawan yang semestinya tidak ia lawan, yakni Ayah kandungnya sendiri. Ayahnya pun terbunuh ditangan anaknya sendiri, Abu Ubaidah. Tentu ini menjadi bukti bahwa Abu Ubaidah adalah orang yang memiliki kekokohan iman yang kuat untuk memperjuangkan Islam meski harus berhadapan dengan Ayah kandungnya sendiri.

Kisah Abu Ubaidah ini tercatat dalam firman Allah dalam Surah al-Mujadalah ayat 23. Allah SWT berfirman “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung“.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”.

Tentu saja, kekokohan Keimanan Abu Ubaidah bin Jarrah ini menginspirasi dan membuktikan kecintaannya Kepada sang pencipta Allah SWT. Ia sudah membuktikan, demi memperjuangkan Agama Islam, beliau rela berperang dan melawan Ayahnya sendiri. Pun Abu Ubaidah juga telah mebuktikan betapa besar kecintaannya kepada Allah SWT melebih kecintaannya kepada yang lainnya.

Tentu saja, kekokohan Keimanan Abu Ubaidah bin Jarrah ini menginspirasi dan membuktikan kecintaannya Kepada sang pencipta Allah SWT. Ia sudah membuktikan, demi memperjuangkan Agama Islam, beliau rela berperang dan melawan Ayahnya sendiri. Pun Abu Ubaidah juga telah mebuktikan betapa besar kecintaannya kepada Allah SWT melebih kecintaannya kepada yang lainnya.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *